Thursday, August 28, 2014

Amalan Untuk Mendapat Keberkatan Rezeki

Amalan Untuk Mendapat Keberkatan Rezeki.

1. Memperbanyak istighfar kepada Allah ta'ala.
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾  يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا ﴿١٢﴾
سورة نوح ١٠-١٢

Maka aku (Nuh) berkata : “Mohonlah ampun kepada Tuhan kamu , sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun”. (10) (Dia) akan mengutus langit untuk menurunkan hujan yang lebat kepada kamu (11) Dan akan menambah pada kamu dengan harta dan anak; dan menjadikan kebun dan sungai pada kamu sekalian" (12 )

Nuh : 10-12

Dengan banyak membaca istighfar, maka Allah ta'ala akan mengampuni dosa-dosa kita ( dosa kecil ). Jika kita rajin membaca istighfar, maka Allah ta'ala juga akan menambah rezeki kepada kita, yang pada ayat di atas digambarkan dengan banyaknya harta dan anak, dan adanya kebun dan sungai.

مَنْ أَكْثَرَ مِنَ اْلاِسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حيث لا يحتسب
رواه احمد

“Barang siapa yang memperbanyak dari istighfar, Allah menjadikan dari tiap-tiap kesusahan ada kelonggaran/kemudahan, dan dari tiap-tiap kesempitan ada jalan keluar, dan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka”.

( HR Ahmad )

Siapa saja yang memperbanyak membaca istighfar akan dimudahkan oleh Allah ta'ala jika menemui kesulitan, akan diberikan jalan keluar jika mengalami masalah, dan akan diberikan rezeki yang tidak disangka-disangka .

2. Memperbanyak sedekah dan infaq fi sabilillah

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ      سورة سبإ  ٣٩

Dan semua yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan
Allah adalah sebaik-baiknya zat yang memberi rezeki.

Sabaa' : 39

Allah ta'ala akan mengganti semua yang diinfakkan oleh manusia, baik kecil maupun besar, kerana Allah ta'ala memiliki kuasa untuk memberikan rezeki. Dalam beberapa hadis lainnya juga dijelaskan bahwa Allah ta'ala akan mengganti harta yang diinfakkan dengan nilai yang jauh lebih besar, baik di dunia maupun di akhirat.

* قَالَ اللَّهُ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ      رواه البخاري

Allah ta'ala berfirman( hadis qudsi ) : " Infaklah kamu, maka Aku akan infak padamu”

HR Bukhari

Jika kita menginfakkan harta atau memberikan sedekah di jalan Allah ta'la, Allah ta'ala berjanji akan menginfakkan kita kembali, atau memberikan ganti dari harta yang kita infakkan tersebut. Dalam hal ini, yang diberikan oleh Allah ta'ala harta ataupun hal-hal lain yang mungkin lebih bermakna dari harta yang kita infakkan.

3. Memperbanyak silaturrahhim

 مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ       رواه البخاري

“Barang siapa yang senang jika dibentangkan rezeki kepadanya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia menyambung silaturrahim ”

HR Bukhari

Orang yang senang bersilaturahim akan dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Silaturahim di sini adalah mengunjungi keluarga atau sahabat-sahabat kita, terutama yang sudah jarang sekali bertemu. Adapun umur yang dipanjangkan ada dua pengertian, yaitu umur yang memang lebih dipanjangkan oleh Allah ta'ala atau kehidupan yang lebih baik, sehingga umur yang dirasakan lebih bermanfaat.

4. Senang menghormati tetamu
 *الضَّيْفُ يَأْتِى بِرِزْقِهِ وَيَرْتَحِلُ بِذُنُوْبِ الْقَوْمِ يُمَحِّصُ عَنْهُمْ ذُنُوْ بَهم        رواه ابو الشيخ

"Tetamu datang dengan rezekinya dan pergi dengan dosa kaum (tuan rumah), dan ia membersihkan dosa-dosa mereka (tuan rumah)."

HR Abu Syeikh

Kedatangan tetamu membawa rezeki bagi tuan rumah. Selain itu dengan perginya tetamu, maka dosa-dosa yang dimiliki oleh rumah dibersihkan (dihapus) seiring dengan perginya tetamu. Perlu dicatat bahwa dalam hal ini bukan berarti yang bertamu kehilangan rezeki dan menanggung dosa .

5. Berusaha menjadi orang yang jujur dan amanah

 *اْلأَمَانَةُ تَجْلِبُ الرِّزْقَ وَالْخيانة تَجْلِبُ الْفَقْرَ      رواه الديلمي

" Amanah itu menarik rezeki, dan khianat itu menarik kefakiran. "

HR Dailami

Sifat amanah atau boleh dipercayai itu dapat menarik rezeki, karena biasanya orang yang jujur dan dapat dipercaya akan disukai oleh banyak orang dan makin lama makin jujur, kepercayaan akan semakin diberikan dan akan semakin banyak menambah rezeki. Sebaliknya, orang yang tidak jujur, tidak menjaga amanah atau khianat, biasanya akan dijauhi banyak orang sehingga menjadi faqir karena tidak ada perantara yang memberikan rezeki padanya.

6. Meningkatkan taqwa kepada Allah ta'ala (mengerjakan semua perintahNya dan menjauhi semua larangan-Nya)

 ..وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ ...     الطلاق ٢-٣

Dan barang siapa yang taqwa kepada Allah, Allah akan menjadikan padanya jalan keluar, dan akan memberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka

At Thalaaq : 2-3

 *وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِخَطِيئَةٍ يَعْمَلُهَا      رواه ابن ماجة

" Dan sesungguhnya seorang laki-laki dihalangi (atas) rezeki dengan kesalahan yang dia amalkan. "

HR Ibnu Majah

Dari ayat Al-Qur’an dan hadis di atas, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi jika kita bertaqwa kepada Nya. Selain itu, Allah ta'ala akan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka sebelumnya jika kita selalu bertaqwa kepada Nya. Misalnya tiba-tiba kita mendapatkan pekerjaan yang lumayan namun hanya memerlukan sedikit usaha.

Sedangkan jika kita kesulitan mendapatkan rezeki, mungkin kita perlu bermuhasabah terhadap diri kita, mungkin kita banyak melakukan salah atau dosa dan belum bertaubat. Namun jika ternyata kita sudah bertaqwa kepada Allah ta'ala dan berusaha menjalankan semua perintahNya serta menjauhi semua laranganNya, namun tidak diberi rezeki yang mencukupi, mungkin ianya adalah ujian keimanan bagi kita.

Jika kita masih berada dalam kesusahan walaupun sudah berusaha semaksima , mungkin kita termasuk dari hamba Allah yang tidak bersyukur seperti Qarun , yang tidak menginfakkan dan berzakat setelah menjadi kaya, namun menganggap bahawa usahanya selama ini adalah karena kepandaiannya dan bukan pemberian dari Allah ta'ala yang akhirnya diazab oleh Allah ta'ala dek sebab kekufurannya itu.

7. Memperbanyak tawakal kepada Allah ta'ala.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ...الآية      سورة الطلاق ٣

'Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah ta'ala akan mencukupkannya.'

At Thalaaq : 3

Sifat tawakal adalah sifat berserah diri dan menerima apa yang diberikan oleh Allah ta'ala kepada kita, apa yang Allah tentukan kepada kita. Insya Allah bila kita bertawakal, maka pertolongan Allah ta'ala akan datang.

8. Selalu husnuzzan billah (berprasangka baik kepada Allah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ  وسلم :    إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي     رواه مسلم

Dari Abu Hurairah berkata dia: Bersabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah ta'ala berfirman: “Aku di sisi persangkaan hambaku padaku, dan Aku bersamanya ketika dia berdoa padaKu ".

HR Muslim

Sebagai hamba Allah ta'ala, kita harus selalu berprasangka baik akan semua yang diberikan oleh Allah ta'ala kepada kita, misalnya selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah ta'ala kepada kita walaupun kecil dan tetap berprasangka baik bahwa Allah ta'ala akan memberikan yang paling baik kepada kita.

Insya Allah dengan terus berprasangka baik, Allah ta'ala akan terus membantu kita sesuai dengan persangkaan kita tersebut. Namun tentunya kita juga harus terus berusaha, jangan hanya menerima apa adanya tanpa berusaha.

9. Menekuni solat tahajud dan do’a di sepertiga malam yang akhir

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ     رواه البخاري

Akan turun ( rahmat ) Tuhan kami yang Maha Barakah dan Maha Luhur setiap malam sampai ke langit dunia sehingga tetap pada 1/3 malam yang akhir. Maka Allah ta'ala berfirman : “Barang siapa yang berdoa padaKu maka mengabulkan Aku baginya. Barang siapa yang minta padaKu, maka Aku akan memberikan padanya. Barang siapa yang minta ampun padaKu, maka mengampuni Aku padanya.”

HR Bukhari

Berdasarkan hadis di atas, Allah akan memakbulkan do’a hambaNya jika rajin berdo’a pada 1/3 malam yang akhir (sekitar pukul dua pagi sampai menjelang subuh), termasuk bagi orang yang diuji dengan kesusahan dan meminta kehidupan yang lebih baik. Orang yang meminta ampun juga diampuni oleh Allah ta'ala.

Namun perlu diingat pula bahawa dari hadis lain dijelaskan pula bahwa ada 3 cara Allah ta'ala memakbulkan do’a hambaNya, iaitu: (1) dimakbulkan terus  (2) ditunda, (3) diganti, samaada diganti di dunia maupun di akhirat nanti, sebab mungkin apa yang kita minta tidak baik untuk diri kita. Oleh karena itu, kita jangan sampai putus asa dalam berdo’a, selalu husnuzzan billah bahwa Allah ta'ala akan memakbulkan setiap do’a yang kita minta.

Wallahu a'laam..


Monday, July 07, 2014

MUJAHADAH DI JALAN ALLAH ...


...Islam mengajarku..bahawa setiap muslim itu sentiasa di dalam JIHAD..kerana para mujahid ialah seorang yang sentiasa bermujahadah menunduk dan memaksa nafsunya supaya mentaati Tuhannya...

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ( لنازعات     .    ٤ - ٤١ )

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (40)

maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya) (41)

An Naazi'at : 40-41


عن فَضَالَة بْنَ عُبَيْدٍ، يَقُولُ:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللَّهِ»

 أخرجه أبوداود (2500)، وابن حبان (الإحسان 4624)

Dari Fadhalaah bin 'Ubaid berkata ia: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : " Mujahid itu ialah seorang yang menunduk dan memaksa nafsunya pada ( mentaati ) Allah ".


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:

إِنَّ الْمُهَاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى الله عَنْهُ،

أخرجه أحمدج في المسند (11/511 )

Dari Abdullah bin 'Umar dari Nabi SAW bahawasanya telah bersabda: " Sesungguhnya seorang muhajir itu ialah yang berhijrah dari apa yang dilarang oleh Allah "

Maka...usahlah memaksa manusia dalam mentarbiyyah mereka ...

namun didiklah agar mereka mampu memaksa nafsu mereka sendiri..


... Hanya seorang yang kuat dan berani sanggup menentang keinginan nafsunya untuk ke syurga ....

( حديث أنس رضي الله عنه الثابت في صحيح مسلم ) أن النبي  صلى الله عليه وسلم  قال : « حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ ».


Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Syurga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)


Huffat: Berasal dari kata al-hafaf (الحَفَاف) yang berarti sesuatu yang meliputi sesuatu yang lain yang berarti surga dan neraka itu diliputi sesuatu. Seseorang tidak akan memasuki surga dan neraka kecuali setelah melewati hijab terebut. Dalam riwayat Bukhari kata huffat diganti dengan kata hujibat (حُجِبَت ) yang berarti tabir, hijab ataupun pembatas dan keduanya memiliki makna sama. Hal ini ditegaskan Ibnul Arabi sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.

Al-Jannah: Kampung kenikmatan.
Al-Makarih: Perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) berupa ketaatan dan ketundukan terhadap aturan-aturan Allah Ta’ala.
An-Nar: Kampung siksaan dan adzab.
Asy-Syahawat: Nafsu yang condong kepada kejelekan-

“Para ulama mengatakan,’Hadits ini mengandung kalimat-kalimat yang indah dengan cakupan makna yang luas serta kefasihan bahasa yang ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Sehingga baginda membuat perumpamaan yang sangat baik dan tepat.

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk syurga  sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitupula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu disebabkan ada tabir yang menghiasi syurga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. Barangsiapa yang berhasil membuka tabir maka ia akan sampai kedalamnya. Tabir syurga itu dibuka dengan amalan-amalan yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan amalan-amalan yang disenangi syahwat.

Diantara amalan-amalan yang dibenci jiwa seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta’ala serta menekuninya, bersabar disaat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bersedekah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya. Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum khamr, berzina, memandang wanita yang bukan mahramnya (tanpa hajat), mengumpat , leka bermain musik dan permainan yang lainnya.

 Adapun syahwat yang mubah maka tidak termasuk dalam hal ini. Namun makruh hukumnya bila berlebih-lebihan karena dikhawatirkan akan menjerumuskan pada perkara-perkara haram, setidaknya hatinya menjadi kering atau melalaikan hati untuk melakukan ketaatan bahkan mampu jadi hatinya menjadi condong kepada gemerlapnya dunia.”

(Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, Asy-Syamilah).

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari berkata,
“Yang dimaksud dengan al-makarih (perkara-perkara yang dibenci jiwa) adalah perkara-perkara yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah ataupun larangan dimana ia dituntut bersungguh-sungguh mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tersebut.

Seperti bersungguh sungguh mengerjakan ibadah serta berusaha menjaganya dan menjauhi perbuatan dan perkataan yang dilarang Allah Ta’ala. Penggunaan kata al-makarih disini disebabkan karena kesulitan dan kesukaran yang ditemui seorang hamba dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.

Adapun yang dimaksud syahwat disini adalah perkara-perkara yang dilakukan untuk menikmati lezatnya dunia sementara syariat melarangnya. Baik karena perbuatan tersebut haram dikerjakan maupun perbuatan yang membuat pelakunya meninggalkan hal yang dianjurkan. Seakan akan Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan seseorang tidaklah sampai ke syurga kecuali setelah melakukan amalan yang dirasa begitu sulit dan berat. Dan sebaliknya seseorang tidak akan sampai ke neraka kecuali setelah menuruti keinginan nafsunya. Syurga dan neraka dihijabi oleh dua perkara tersebut, barangsiapa membukanya maka ia sampai kedalamnya. Meskipun dalam hadits tersebut menggunakan kalimat khabar (berita) akan tetapi maksudnya adalah larangan.”

( Fathul Baari 18/317, Asy-Syamilah)

...memang yang kuat sahaja mampu mengharungi mujahadah ini......

...rasa lemah (العجز) dan malas (الكسل) ..dua penyakit dari nafsu manusia yang boleh dikesan dalam diri manusia setiap kali nak melakukan ketaatan....

...tambah lagi ketika keinginan nafsu sentiasa cenderung kepada manusia...dan dunia...



وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٥٣

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
( Yusuf : 53 )


اللهم إني اعوذ بك من العجز والكسل.....

Ya Allah..aku mohon perlindungan Mu dari rasa lemah dan malas...


...bimbangi hijab ghaflah ( kelalaian )....

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ ﴿١﴾ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ ﴿٢﴾ لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ ۗ .....(٣)

 Telah hampir datangnya kepada manusia hari perhitungan amalnya sedang mereka dalam kelalaian, tidak hiraukan persediaan baginya.(1) Tidak datang kepada mereka itu sebarang peringatan yang diturunkan dari Tuhan mereka lepas satu: satu, melainkan mereka memasang telinga mendengarnya sambil mereka mempermain-mainkannya (2) Dengan keadaan hati mereka leka daripada memahami dan mengamalkan maksudnya....(3)

Al Anbiya' : 1 - 3

علاج الغفلة

أولاً:  العلم بالله :

معرفة الله عز وجل، ومعرفة نبيه صلى الله عليه وسلم ، ومعرفة دينه وشرعه ، قال الله تعالى: (قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ)    الزمر    ٩

وعن معاوية رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين)رواه البخاري

ثانياً: ذكر الله تعالى على كل حال :

فعن  أبي موسى الأشعري رضي الله عنه، أن النبي قال: ( مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكره مثل الحي والميت)

ثالثا مجالس الذكر :

 فعن أنس بن مالك رضي الله عنه: أن رسول الله  قال: (إذا مررتم برياض الجنة فارتعوا) قالوا: وما رياض الجنة؟ قال: (حلق الذكر) أخرجه الترمذي

رابعاً: قراءة القرآن :

قال خبَّاب بن الأرتِّ رضي الله عنه: (تقرّب إلى الله ما استطعت، واعلم أنك لن تتقرب بشيء أحب عليه من كلامه)

خامسا :  الدعاء والتضرع إلى الله تعالى :

حديث أبي سعيد رضي الله عنه أن النبي  قال: (ما من مسلم يدعو الله بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رحم إلا أعطاه بها إحدى ثلاث: إما أن تُعجَّل له دعوته، وإما أن يدخرها له في الآخرة، وإما أن يُصرف عنه من السوء مثلها) قالوا: إذاً نكثر، قال: (الله أكثر) رواه البخاري



سادساً: المحافظة على الصلوات الخمس مع الجماعة:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (من حافظ على هؤلاء الصلوات المكتوبات لم يكتب من الغافلين)رواه ابن خزيمة وصححه الألباني


سابعا : الحرص على قيام الليل :

ولو بعشر آيات في قيامه، فعن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: (من قام بعشر آيات لم يكتب من الغافلين، ومن قام بمائة آية كتب من القانتين، ومن قام بألف آية كتب من المقنطرين) رواه أبو داود


ثامنا : الإكثار من ذكر الموت :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (أكثروا ذكر هاذم اللذات)يعني الموت ،قال الألباني في صحيح النسائي (حسن صحيح)


Merawat dan mengubati hati yang ghaflah ( lalai )

1. Carilah penawar hati dalam ilmu dan makrifat..kerana segala segala kebaikan ada di dalamnya..maka hadirilah majlis-majlis ilmu untuk mencari cahaya ketenangan dan petunjuk serta barakah yang ada di dalamnya.


وعن معاوية رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين)رواه البخاري

Daripada Mu'awiyah RH, daripada Nabi SAW bahawa baginda telah bersabda :
" Barangsiapa yang Allah mahu kebaikan pada dirinya maka Ia fahamkannya akan agamaNya ".

2. Berzikir mengingati Allah dalam semua waktu dan keadaan samaada dengan lidah mahu pun dengan hati.

فعن  أبي موسى الأشعري رضي الله عنه، أن النبي قال: ( مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكره مثل الحي والميت)

Daripada Abu Musa Al Asy'ari RH bahawa Nabi SAW telah bersabda :
" Bandingan orang yang berzikir mengingati Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir seperti bandingan orang yang hidup dengan orang yang mati ".

3. Bersama dengan majlis-majlis zikir yang dapat mendekatkan ingatan hati pada Nya..
فعن أنس بن مالك رضي الله عنه: أن رسول الله  قال: (إذا مررتم برياض الجنة فارتعوا) قالوا: وما رياض الجنة؟ قال: (حلق الذكر) أخرجه الترمذي

Daripada Anas bin Malik RH: Rasululullah SAW telah bersabda:
" Apabila kamu melalui taman-taman syurga maka raikanlah ". Sahabat bertanya " Pakah dia taman-taman syurga? ". Nabi SAW bersabda " perkumpulan zikir ".

4. Dekati Allah melalui kalaamNya iaitu Al Quran

قال خبَّاب بن الأرتِّ رضي الله عنه: (تقرّب إلى الله ما استطعت، واعلم أنك لن تتقرب بشيء أحب عليه من كلامه)
Khabbab bin Al Arat RH berkata : " Dekatilah Allah semampu yang engkau boleh..dan ketahuilah engkau tidak akan dapat  mendekatiNya dengan sesuatu yang terlebih Dia kasih melainkan dengan KALAMNYA ( Al Quran ) ".

5. Berdoa memohon dengan sungguh-sungguh agar dibuka hatimu daripada kegelapan ghaflah itu
حديث أبي سعيد رضي الله عنه أن النبي  قال: (ما من مسلم يدعو الله بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رحم إلا أعطاه بها إحدى ثلاث: إما أن تُعجَّل له دعوته، وإما أن يدخرها له في الآخرة، وإما أن يُصرف عنه من السوء مثلها) قالوا: إذاً نكثر، قال: (الله أكثر) رواه احمد

Daripada Abu Sa‘id Al-Khudri berkata sesungguhnya Nabi SAW bersabda yang maksudnya : “Tiada seorang muslim berdoa dengan satu doa, bukan doa yang mengandungi dosa dan bukan doa yang memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengurniakan dengan doanya itu salah satu daripada tiga perkara: sama ada dipercepatkan (disegerakan) baginya doanya itu, atau disimpan baginya pahala doanya itu di akhirat (sebagai balasan), atau dihindarkan daripadanya sesuatu keburukan seumpamanya. Mereka berkata: “Kalau begitu baiklah kami memperbanyakkan doa”. Bersabda Nabi: “Allah lebih banyak menerima doa hamba-hambanya.”

6. Peliharalah solat yang fardhu lima waktu itu dengan berjamaah

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (من حافظ على هؤلاء الصلوات المكتوبات لم يكتب من الغافلين)رواه ابن خزيمة

Daripada Abu Hurairah RH berkata: Rasululullah SAW telah bersabda :
" Barangsiapa yang memelihara solat yang fardhu maka tidak termaktub ia di kalangan yang lalai ".

7. Bangkitlah beribadah di malam hari untuk mengintai rahmat dan taufiq Ilahi agar terungkai belenggu ghaflah dari hati

فعن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: (من قام بعشر آيات لم يكتب من الغافلين، ومن قام بمائة آية كتب من القانتين، ومن قام بألف آية كتب من المقنطرين) رواه أبو داود
Daripada Abdullah bin Amru bin Al 'As RHM daripada Rasululllah SAW bersabda baginda : " Barangsiapa yang mendirikan malam dengan ( membaca ) sepuluh ayat ( Al Quran ) tidak dimaktub dia sebagai seorang yang lalai. dan barangsiapa yang mendirikan malam dengan (membaca) satu ratus ayat ( Al Quran) ditulis ia sebagai seorang yang yang tetap dalam ibadah. Dan barangsiapa yang mendirikan malam dengan ( membaca ) satu ribu ayat ( Al Quran) ditulis ia sebagai seorang yang sangat beruntung."

8. Banyakkanlah mengingati mati dan kehidupan abadi di akhirat

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (أكثروا ذكر هاذم اللذات)يعني الموت ،في صحيح النسائي (حسن صحيح)

Daripada Abu Hurairah RH berkata ia: daripada Rasulullah SAW bersabda :
 " Perbanyakkanlah mengingati pemutus kelazatan ( MAUT )

























Saturday, June 14, 2014

Jalan Pengukuhan Diri...ruh, aqal, hati dan nafsu...ke arah membina AMILIN MUJAHIDIN fi sabilillah..

Ijtimak Bukit Katil 15/6/2014
Markaz Paya Dalam

Jalan pengukuhan DIRI ...ruh, aqal, hati dan nafsu...dalam membina AMILIN MUJAHIDIN fi sabillah...


...Islam mengajarku..bahawa setiap muslim itu sentiasa di dalam JIHAD..kerana para mujahid ialah seorang yang sentiasa bermujahadah menunduk dan memaksa nafsunya supaya mentaati Tuhannya...

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ( لنازعات     .    ٤ - ٤١ )

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (40)

maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya) (41)

An Naazi'at : 40-41


عن فَضَالَة بْنَ عُبَيْدٍ، يَقُولُ:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللَّهِ»

 أخرجه أبوداود (2500)، وابن حبان (الإحسان 4624)

Dari Fadhalaah bin 'Ubaid berkata ia: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : " Mujahid itu ialah seorang yang menunduk dan memaksa nafsunya pada ( mentaati ) Allah ".


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:

إِنَّ الْمُهَاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى الله عَنْهُ،

أخرجه أحمدج في المسند (11/511 )

Dari Abdullah bin 'Umar dari Nabi SAW bahawasanya telah bersabda: " Sesungguhnya seorang muhajir itu ialah yang berhijrah dari apa yang dilarang oleh Allah "

Maka...usahlah memaksa manusia dalam mentarbiyyah mereka ...

namun didiklah agar mereka mampu memaksa nafsu mereka sendiri..



وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ﴿٧﴾ يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّـهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٨﴾ وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَـٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ ﴿٩﴾

Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa,

dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.

Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.

Al Jatsiah 7-9

...kenapa hati tidak berasa silap dan bersalah...tidak rasa berdosa..sedangkan hidup penuh dengan silap, salah dan dosa..

...itulah akibatnya bila tiada kehalusan hati dan jiwa

عن ابن مسعود ما رواه البخاري في صحيحه عنه رضي الله عنه، ورواه مسلم انه قال :

Daripada Ibn Mas'ud apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, ia telah berkata :

إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه, وإن الفاجر يرى ذنوبه كذباب مر على أنفه فقال به هكذا فذبه عنه.

Dosa dilihat oleh seorang beriman bagaikan bukit yang besar yang dibimbangi akan menghempap dirinya...namun bagi seorang fajir ( pendosa ) dosa hanya bagaikan lalat kecil yang kecil yang hinggap di batang hidungnya lalu ia menepis2..

Puncanya bila :

1. Iman tidak menguasai hati
2. Tidak merasai jijiknya dosa
3. Tidak takut dengan cercaan dan azab terhadap pendosa
4. Dosa terlalu banyak dan besar
5. Memperkecilkan dosa

Tarbiyyah bukan semata pembentukan dan penjelasan fikrah...mesti ada penghalusan akhlaq dan adab..penghalusan hati dan jiwa..


....pengukuhan ruhiyy dan pengasuhan nafsu..

Aqal boleh terperangkap dengan kejahilan..taqlid..taksub..statik..jika tidak diimbangi dengan kehalusan hati..jiwa..dan ruh yang ..

sentiasa disegarkan dengan ibadah..dan zikrullah..dan keterikatan dengan Kitab Allah...

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

29 ص

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

Shaad : 29


...menyentuh jiwa para remaja..

Ketika Ibnu Abbas masih kecil lagi...beliau mendapat tarbiyyah yang sangat berkesan melalui uslub tarbiyyah Baginda S.A.W ....

عن عبدالله بن عباس رضي الله عنها قال: كنت خلف النبي صلى الله عليه وسلم يوما فقال: يا غلام إني أعلمك كلمات:احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك، وإذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله، واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف
 (رَواهُ التَّرمِذي)

Daripada Abdullah ibn Abbas r.a yang berkata: "Suatu hari ketika aku berada di belakang Rasulullah S.A.W , baginda bersabda: Wahai ghulam, sesungguhnya aku ingin mengajarkanmu perkataan-perkataan iaitu jagalah Allah sesungguhnya DIA akan menjaga kamu, jagalah Allah kamu akan dapati DIA menjagamu, apabila kamu ingin bertanya atau meminta sesuatu maka bertanya dan mintalah daripada-NYA. Dan ketahuilah bahawa sekiranya satu umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, tapi tidak mampu melaksanakannya jika ia tidak ditetapkan oleh Allah kepadamu. Begitu juga sekiranya satu umat berkumpul untuk memudaratkan kamu, nescaya mereka tidak akan mampu melaksanakannya tanpa ketetapan daripada-NYA, telah terangkat qalam, dan telah tertulis dalam suhuf."


"رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّت الصُّحُفُ" يعني أن ما كتبه الله عزّ وجل

قد انتهى فالأقلام رفعت والصحف جفت ولا تبديل لكلمات الله .

لذلك فلا يرد القضاء الا الدعاء

هذا والله اعلم ~

Jalan pengukuhan DIRI ...ruh, aqal, hati dan nafsu...

1. Qiyamullail..

 إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا ﴿   ٦ )

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Al Muzzammil : 6

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا ﴿     ٧٩  )

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Al Isra' : 79

عليكم بقيام الليل فإنه دأب الصالحين قبلكم، وقربة إلى الله تعالى، ومكفرة للسيئات، ومنهاة عن الإثم، ومطردة للداء عن الجسد.

رواه أحمد والترمذي


“Hendaklah kamu melakukan qiyamullail kerana qiyamullail  adalah kebiasaan orang-orang soleh sebelum kamu, sebab qiyamullail  mendekatkan diri kepada Allah, menghapuskan kesalahan-kesalahan, mencegah dari dosa dan menghalau penyakit dari tubuh.”

HR Ahmad dan Tirmizi

2. Tilawah dan tadabbur Al Quran

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ     (     ٢٩  )

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

Shaad : 29

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩  (    ١٥ )

Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.

As Sajadah : 15

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّـهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ   (     ٢  )

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Al Anfaal : 2

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله علية وسلم: (من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها. لا أقول آلم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف ). صحيح الترمذي.


قال ابن القيم :  فقراءة  القرآن بالتفكر هي أصل صلاح القلب

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullahu ta' ala :

"  Membaca Al Quran dengan tafakkur ( memikirkan isi kandungannya ) itu ialah asas kepada pengislahan ( perbaikan ) hati "

3. Zikrullah

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّـهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّـهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ    (    ٢٨  )

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Ar Ra'd : 28

 وعن أبي هريرة وأبي سعيد رضي الله عنهما أنهما شهدا على النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : لا يقعد قوم يذكرون الله إلا حفتهم الملائكة ، وغشيتهم الرحمة ، ونزلت عليهم السكينة ، وذكرهم الله فيمن عنده  .
رواه مسلم

Sabda Rasulullah SAW :

" Tidak duduk satu kaum yang berzikir mengingati Allah melainkan para Malaikat akan melingkungi mereka, rahmat Allah meliputi mereka, sakinah ( ketenangan ) turun ke atas mereka dan Allah mengingati mereka di sisinya. "

HR Muslim

Istiqamahlah walau pun sedikit...



Ijtimak Bkt Katil 15/6/2014




Monday, May 26, 2014

Perhalusilah jalan ibadat mu...

Perhalusilah jalan ibadat mu...

Kalaam thoriqah ibadah dari yang punya mata hati..

فلما استكمل العلم والمعرفة بالفرائض، انبعث ليأخذ في العبادة ويشتغل بها؛ فنظر فإذا هو صاحب جنايات وذنوب، وهذا حال الأكثر من الناس؛ فيقول: كيف أُقبِل على العبادة وأنا مُصر على المعصية متلطخ بها؟ فيجب عليَّ أولًا أن أتوب إليه، ليغفر لي ذنوبي ويخلصني من أسرها، وأتطهر من أقذارها، فأصلح للخدمة وبساط القربة.
فتستقبله ها هنا عقبة التوبة؛ فيحتاج لا محالة إلى قطعها، ليصل إلى ما هو المقصود منها، فأخذ في ذلك بإقامة التوبة في حقوقها وشرائطها إلى أن قطعها، فلما حصلت له التوبة الصادقة، وفرغ من قطع هذه العقبة، حنَّ إلى العبادة ليأخذ فيها؛ فنظر فإذا حوله عوائق محدقة به، كل واحدة منها تعوقه عما قصد من العبادة بضرب من التعويق، فتأمل فإذا هي أربعة: الدنيا والخَلق والشيطان والنفس، فاحتاج لا محالة إلى دفع هذه العوائق وإزاحتها عنه، وإلا فلا يتأتى له أمره من العبادة.

( نقل من منهاج العابدين للإمام الغزالي )

Maka tatkala telah sempurnanya ilmu dan makrifat dengan kefardhuan, maka bangkitlah sang ' abid untuk mengambil ( jalan ) ibadah dan bersibuk ( dan berbimbang ) dengan ibadah, maka menilik ia, maka ia mempunyai banyak jenayah dan dosa. Dan inilah hal keadaan kebanyakan daripada manusia. Maka berkata sang 'abid " Bagaimana aku mahu menghadap kepada ibadah sedang aku masih berkekalan atas kemaksiatan dan berlumuran dengannya? maka wajiblah atasku terlebih dulu agar bertaubat kepadaNya, semoga Dia mengampuni aku akan dosa-dosaku dan membersihkan aku dari tawanannya dosa-dosa ku, dan membersihkan aku daripada segala kejijikannya, maka ketika elok untuk khidmat dan dapat hampir kepadaNya.

Maka menghadap di sini aqabah ( pendakian ) taubat. Maka tidak dapat tiada kepada memutuskannya supaya sampai kepada matlamatnya. Maka diambillah ( jalan) taubat yang sebenarnya dengan ditunaikan segala hak dan syaratnya.

Tatkala hasillah bagi sang 'abid taubat yang sadiqah ( benar ) dan selesailah ia memutuskan aqabah taubat itu, rindulah ia kepada mengerjakan ibadat supaya ia mengambil ( faedah ) pada ibadat itu. Maka ia melihat di sekitarnya beberapa 'awaa'iq ( yang menegah ) daripada beribadat. Setiap satunya menegah daripada hasil ibadat. Lalu ia menilitinya dan ada empat yang menegah ibadat iaitu :

Pertama : Dunia, Kedua : Makhluk, Ketiga : Syaithan dan Keempat : Nafsu

Maka  memerlukan untuk diputuskan, tidak dapat tiada mestilah menghilangkannya. jika tidak tiada perlepasan dan keamanan dalam urusan ibadat.

( Petikan dari Kitab Minhajul Abidin oleh Imam Al Ghazali )

Monday, April 07, 2014

Kesan Ibadat dalam diri insan...

Dalam tafsirnya Mukhtasar Ibnu Katsir, As Shabouni menjelaskan tentang pengertian al Ibadah sebagai :

هي ما يجمع كمال المحبة والخضوع والخوف

" Apa sahaja ( samaada perlakuan hati, perkataan dan perbuatan ) yang menghimpunkan kesempurnaan kecintaan, ketundukan dan ketakutan ( kepada Allah ). "

Justeru, istiqamah dalam ibadahmembawa kesan yang besar dalam diri seorang muslim pada hatinya..pada tutur katanya dan juga tingkah laku perlakuan hidupnya.

Firman Allah ta'ala :
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّـهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّـهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ﴿٢٩﴾

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Al Fath : 29

Inilah tasawwur...gambaran lengkap dan indah hasil ibadah yang dirakamkan oleh Allah Rabbul Jalil terhadap generasi agung para sahabat Ar Rasul SAW.

Bermula dari ' keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka '...' mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya ' sehinggalah  ' tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud '... semuanya itu menggambarkan kesan yang menyeluruh dan sempurna kesan ibadah kepada diri dan keperibadian generasi para sahabat ridhwanullahi ' alaihim ajma'ien.

قال بن كثير رحمه الله في تفسيره لهذه الآية

وقوله جل جلاله: { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال ابن عباس : يعني السمت الحسن، وقال مجاهد : يعني الخشوع والتواضع ، وقال السدي: الصلاة تحسّن وجوههم، وقال بعض السلف: من كثرت صلاته بالليل حَسُن وجهه بالنهار

Ibnu Katsir mentafsirkan ( سيماهم في وجوههم من أثر السجود ): Ibnu Abbas berkata : ' keperibadian yang baik ', Mujahid mentafsirkannya sebagai ' khusyu' dan tawadhu', as Siddi pula berkata ' Solat mengelokkan wajah-wajah mereka '. Berkata sebahagian Salaf : Siapa yang membanyakkan solat di waktu malam maka wajahnya akan elok di waktu siangnya '.

نسبه ابن القيم في روضة المحبين (ص 441) لأنس ، وابن عباس - رضي الله عنهم - :
قال - رحمه الله - :
« وقال ابن عباس وأنس - رضي الله عنهم - : إن للحسنة نورا في القلب ، وزينا في الوجه ، وقوة في البدن ، وسعة في الرزق ، ومحبة في قلوب الخلق . وإن للسيئة ظلمة في القلب ، وشينا في الوجه ، ووهنا في البدن ، ونقصا في الرزق ، وبغضة في قلوب الخلق » .

Ibnu Abbas berkata : ' Sesungguhnya bagi kebaikan itu cahaya di dalam hati, hiasan pada wajahnya, kekuatan pada tubuhnya, keluasan pada rezekinya, kecintaan pada hati-hati makhluq Allah, manakala bagi kejahatan itu kegelapan pada hati, kesuraman pada wajah, kelesuan pada tubuh, kekurangan pada rezeki, dan kebencian pada hati-hati makhluq Allah '

Justeru, ...perkasakanlah dan perhalusilah ibadah antum wahai para pejuang agama Allah...






Sunday, February 23, 2014

وآداب الصحبة:

الايثار بالمال، فإن لم يكن هذا فبذل الفضل من المال عند الحاجة، والإعانة بالنفس في الحاجات، على سبيل المبادرة من غير احواج إلى التماس، وكتمان السر، وستر العيوب، والسكوت على تبليغ ما يسوؤه من مذمة الناس إياه، وإبلاغ ما يسره من ثناء الناس عليه، وحسن الإصغاء عند الحديث، وترك المماراة فيه، وأن يدعوه بأحب أسمائه إليهس، وأن ثني عليه بما يعرف من محاسنه، وأن يشكره على صنيعه في وجهه، وأن يذب عنه في غيبته إذا تعرض لعرضه كما يذب عن نفسه، وأن ينصحه باللطف والتعريض إذا احتاج إليه، وأن يعفو عن زلته وهفوته، ولا يعتب عليه، وأن يدعو له في خلوته في حياته وبعد مماته، وأن يحسن الوفاء مع أهله وأقاربه بعد موته، وأن يؤثر التخفيف عنه، فلا يكلفه شيئا من حاجاه، فيروح سره من مهماته، وأن يظهر الفرح بجميع ما يرتاح له من مساره، والحزن على نياله من مكارهه، وأن يضمر في قلبه مثل ما يظهره، فيكون صادقا في وده سرا وعلانية، وأن يبدأه بالسلام عند إقباله، وأن يوسع له في المجلس ويخرج له من مكانه، وأن يشيعه عند قيامه، وأن يصمت عند كلامه حتى يفرغ من كلامه، ويترك المداحلة في كلامه.

ADAB BERSAHABAT :

1)Mengutamakan sahabat dengan harta bendanya. Jika tidak mampu berbuat demikian maka hendaklah ia memberikan kepada sahabatnya apa-apa yang lebih dari hajat dirinya.

2)Menolong sahabat dengan diri pada segala hajatnya dengan cara bersegera, sebelum sahabat itu meminta tolong.

3)Menyembunyikan rahsia sahabatnya.
E
4)Menutup keaiban sahabatnya.

5)Berdiam daripada menyampaikan perkataan orang lain yang mencela sahabat kita.

6)Menyampaikan segala perkataan orang lain yang memuji sahabat kita.

7)Mendengar dengan baik apabila sahabat bercakap dengan kita.

8)Meninggalkan perbalahan dengan sahabat.

9)Memanggil sahabat dengan nama yang disukainya.

10)Memuji sahabat akan kebaikannya.

11)Berterima kasih kepada sahabat atas kebaikannya.

12)Menegah orang lain daripada mengumpat sahabat kita seperti kita membela diri sendiri.

13)Memberi nasihat dengan cara yang lemah lembut dan bahasa yang halus apabila hendak menasihati sahabat kita.

14)Memaafkan segala kesilapan sahabat dan janganlah mencelanya.

15)Mendoakan sahabat ketika sahabat itu masih hidup atau telah meninggal dunia.

16)Mengekalkan ukhwah terhadap keluarga sahabat selepas kematian sahabat itu.

17)Jangan suka membebankan sahabat.

18)Menyatakan rasa kesukaan dengan segala yang menyukakan hati sahabat itu dan menyatakan kesusahan terhadap apa yang menyusahkan hati sahabat itu. (gembira dan sedih bersama, susah dan senang bersama)

19)Menyamakan antara hakikat kecintaan yang wujud di dalam hati dengan apa yang nampak di luar, maka dengan itu barulah kecintaan itu dianggap benar.

20)Memulakan memberi salam ketika bertemu dengan sahabat.

21)Meluaskan tempat duduk kepada sahabat ketika di dalam majlis dan hendaklah berpindah ke tempat lain jika tidak dapat berbuat demikian. (memberikan sahabat kita tempat duduk)

22)Hendaklah kita menghantar sahabat ke muka pintu apabila sahabat itu keluar dari rumah kita.

23)Hendaklah berdiam ketika sahabat sedang bercakap sehingga selesai percakapannya dan janganlah mencelah ketika sahabat itu sedang bercakap.

Syukran wa jazakumullah khairan kepada para sahabat yang telah menunaikannya...dan mohon kemaafan jika hamba yang lemah ini tak mampu lagi menunaikannya pada antum....

Semoga kita berkumpul semula di Syurga nanti....
..Jadilah manusia rabbani....

(( أمرني ربي بتسع، خشية الله في السر والعلانية، كلمة العدل في الغضب والرضا، القصد في الفقر والغنى، وأن أصل من قطعني وأن أعفو عمن ظلمني، وأن أعطي من حرمني، وأن يكون صمتي فكراً ونطقي ذكراً ونظري عبرةً))
[ القرطبي عن أبي هريرة]

Tuhanku memerintahkan aku dengan sembilan (perkara):
1. Takutkan Allah dalam rahsia dalam ketika berahsia dan berterangan
2. Kalimah yang adil dalam ketika marah dan redha
3. Bersederhana dalam ketika fakir dan kaya
4. Menyambung hubungan pada orangbyang memutuskan hubungan denganku
5. Memaafkan orang yang menzalimiku
6. Memberi kepada orang yang menegah pemberian padaku
7. Diamku adalah berfikir
8. Kata-kataku adalah zikir
9. Pandanganku adalah pengajaran

( HR Qurtubi )

خياركم من ذكركم بالله رؤيته وزاد في علمكم منطقه ورغبكم في الآخرة عمله أخرجه الحكيم
 عن ابن عمرو بن العاص رضي الله عنه

Sebaik-baik kamu ialah seorang yang bila melihatnya mengingatkan kamu pada Allah, kata-katanya menambah ilmu kamu dan amalannya menambah cenderung mu pada akhirat


PadaMu Ya Rabb aku meminta...

اللهم بعلمك الغيب ، وقدرتك على الخلق ، أحيني ما علمت الحياة خيرا لي ،
 وتوفني إذا علمت الوفاة خيرا لي ،
اللهم إنّي أسألك خشيتك في الغيب والشهادة ، وأسألك
كلمة الحق في الرضا والغضب ،وأسألك القصد في الفقر والغنى
وأسألك نعيما لا ينفد ، وأسألك قرة عين لا تنقطع ، وأسألك
الرضاء بعد القضاء ، وأسألك برد العيش بعد الموت ،
وأسألك لذة النظر إلى وجهك ، والشوق إلى لقائك ،
في غير ضراء مضرة ، ولا فتنة مضلة ، اللهم زينا بزينة الإيمان ،
واجعلنا هداة مهتدين

(الحديث أخرجه الإمام أحمد والنسائي وابن خزيمة وابن حبان واللالكائي وغيرهم )
.
artinya:
.
Ya Allah, dengan adanya Engkau mengetahui yang ghaib dan dengan kekuasaanMu untuk menciptakan makhluk:
Perpanjanglah hidupku bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku …
Matikanlah aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku …
.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Mu agar aku takut kepada-Mu dalam keadaan sembunyi (sepi) atau ketika ramai …
Aku memohon kepada Mu agar dapat berpegangdengan kalimat haq di waktu rela atau marah …
Aku memohon kepada Mu agar aku mampu melaksanakan kesederhanaan dalam keadaan fakir ataupun kaya …
Aku memohon kepada Mu agar diberikan nikmat yang tidak habis …
Aku memohon kepada Mu agar diberikan ketenangan yang tidak putus …
Aku memohon kepada Mu agar aku dapat rela setelah qadha Mu (turun kepada kehidupanku) …
Aku memohon kepada Mu kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia …
Aku memohon kepada Mu agar aku dapat menikmati memandang wajah Mu (di syurga), rindu bertemu dengan Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan …
.
Ya Allah, hiasilah  kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memperoleh bimbingan dari Mu.

Saturday, January 11, 2014

... Hanya seorang yang kuat dan berani sanggup menentang keinginan nafsunya untuk ke syurga ....

( حديث أنس رضي الله عنه الثابت في صحيح مسلم ) أن النبي  صلى الله عليه وسلم  قال : « حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ ».


Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Syurga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”

(HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah mengulas hadis ini :

“Para ulama mengatakan,’Hadis ini mengandung kalimat-kalimat yang indah dengan cakupan makna yang luas serta kefasihan bahasa yang ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Sehingga baginda membuat perumpamaan yang sangat baik dan tepat. Hadis ini menjelaskan kepada kita bahawa seseorang itu tidak akan masuk syurga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitupula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu disebabkan ada tabir yang menghiasi syurga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. Barangsiapa yang dapat membuka tabir maka ia akan sampai ke dalamnya. Tabir syurga itu dibuka dengan amalan-amalan yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan amalan-amalan yang disenangi syahwat. Di antara amalan-amalan yang dibenci jiwa seperti bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta’ala serta menekuninya, bersabar ketika berat menjalankannya, menahan kemarahan, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bersedekah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak menurut hawa nafsu dan yang lainnya. Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum arak, berzina, memandang wanita yang bukan mahramnya (tanpa hajat), mengumpat, bermain musik ( yang melalaikan ) dan yang lainnya. Adapun syahwat  yang mubah maka tidak termasuk dalam hal ini. Namun makruh hukumnya bila berlebih-lebihan karena dikhawatirkan akan menjerumuskan pada perkara-perkara haram, setidak-tidaknya hatinya menjadi kering atau melalaikan hati untuk melakukan ketaatan bahkan jadi hati menjadi condong kepada keindahan dunia.”(Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, Asy-Syamilah).

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari berkata,

“Yang dimaksud dengan al-makarih المكاره (perkara-perkara yang dibenci jiwa) adalah perkara-perkara yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah ataupun larangan dimana ia dituntut bersungguh-sungguh mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tersebut. Seperti bersungguh sungguh mengerjakan ibadah serta berusaha menjaganya dan menjauhi perbuatan dan perkataan yang dilarang Allah Ta’ala. Penggunaan kata al-makarih disini disebabkan karena kesulitan dan kesukaran yang ditemui seorang hamba dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Adapun yang dimaksud syahwat disini adalah perkara-perkara yang dilakukan untuk menikmati lezatnya dunia sementara syariat melarangnya. Baik disebabkan perbuatan tersebut haram dikerjakan maupun perbuatan yang membuat pelakunya meninggalkan hal yang diperintahkan. Seolah-olahnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan seseorang tidak akan sampai ke syurga kecuali setelah melakukan amalan yang dirasa begitu sulit dan berat. Dan sebaliknya seseorang tidak akan sampai ke neraka kecuali setelah menuruti keinginan nafsunya. Syurga dan neraka dihijab oleh dua perkara tersebut, barangsiapa membukanya maka ia sampai ke dalamnya. Meskipun dalam hadis tersebut menggunakan kalimat khabar (berita) akan tetapi maksudnya adalah larangan.”(Fathul Baari 18/317, Asy-Syamilah)

Jalan pengukuhan DIRI ...ruh, aqal, hati dan nafsu...

1. Qiyamullail

 إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا ﴿   ٦ )

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Al Muzzammil : 6

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا ﴿     ٧٩  )

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Al Isra' : 79

عليكم بقيام الليل فإنه دأب الصالحين قبلكم، وقربة إلى الله تعالى، ومكفرة للسيئات، ومنهاة عن الإثم،ومطردة للداء عن الجسد.
 رواه أحمد والترمذي


“Hendaklah kamu melakukan qiyamullail kerana qiyamullail  adalah kebiasaan orang-orang soleh sebelum kamu, sebab qiyamullail  mendekatkan diri kepada Allah, menghapuskan kesalahan-kesalahan, mencegah dari dosa dan menghalau penyakit dari tubuh.”

HR Ahmad dan Tirmizi

2. Tilawah dan tadabbur Al Quran

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ     (     ٢٩  )

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

Shaad : 29

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩  (    ١٥ )

Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.

As Sajadah : 15

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّـهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ   (     ٢  )

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Al Anfaal : 2

قال ابن القيم :  فقراءة  القرآن بالتفكر هي أصل صلاح القلب

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullahu ta' ala :

"  Membaca Al Quran dengan tafakkur ( memikirkan isi kandungannya ) itu ialah asas kepada pengislahan ( perbaikan ) hati "

3. Zikrullah
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّـهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّـهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ    (    ٢٨  )

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Ar Ra'd : 28

 وعن أبي هريرة وأبي سعيد رضي الله عنهما أنهما شهدا على النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : لا يقعد قوم يذكرون الله إلا حفتهم الملائكة ، وغشيتهم الرحمة ، ونزلت عليهم السكينة ، وذكرهم الله فيمن عنده  .
رواه مسلم

Sabda Rasulullah SAW :

" Tidak duduk satu kaum yang berzikir mengingati Allah melainkan para Malaikat akan melingkungi mereka, rahmat Allah meliputi mereka, sakinah ( ketenangan ) turun ke atas mereka dan Allah mengingati mereka di sisinya. "

HR Muslim

Istiqamahlah walau pun sedikit...





















Rahmat dan kasih sayang Allah dari lisan NabiNya SAW...

Hati bagaikan takungan rahmat kasih sayang Allah dalam diri manusia..maka limpahkanlah kasih sayang yang ada dalam hatimu itu kepada ikhwah fillah di sekeliling hati mu...

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنَا عَاصِمٌ الْأَحْوَلُ سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ يُحَدِّثُ عَنْ أُسَامَةَ أَنَّ بِنْتًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِ وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَسَعْدٌ وَأُبَيٌّ أَنَّ ابْنِي قَدْ احْتُضِرَ فَاشْهَدْنَا فَأَرْسَلَ يَقْرَأُ السَّلَامَ وَيَقُولُ إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ مُسَمًّى فَلْتَصْبِرْ وَتَحْتَسِبْ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ تُقْسِمُ عَلَيْهِ فَقَامَ وَقُمْنَا مَعَهُ فَلَمَّا قَعَدَ رُفِعَ إِلَيْهِ فَأَقْعَدَهُ فِي حَجْرِهِ وَنَفْسُ الصَّبِيِّ جُئِّثُ فَفَاضَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَعْدٌ مَا هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هَذِهِ رَحْمَةٌ يَضَعُهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Syu'bah Telah mengabarkan kepada kami 'Ashim Al Ahwal aku mendengar Abu 'Utsman menceritakan dari Usamah, bahwa puteri Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam (Zaenab) mengutus utusan untuk menemui Rasulullah, yang ketika itu Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersama Usamah bin Zaid, Sa'd, dan Ubai. Sang utusan menyampaikan pesan yang isinya; 'Anak laki-lakiku telah menghadapi saat-saat kematian, maka kunjungilah kami'. Nabi kemudian mengutus seseorang, menyampaikan salam dan mengatakan; "Milik Allah sematalah segala yang diambil-Nya dan yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu disisi-Nya ada ketentuan ajal tersendiri, maka suruhlah dia untuk bersabar dan mengharap pahala." Lantas puteri Nabi mengutus utusan untuk kedua kalinya, dan puteri beliau menyertakan sumpah. Maka beliau berdiri dan kami pun berdiri bersamanya. Tatkala beliau sampai (dan beliau) telah duduk, anak laki-laki dari puteri beliau (cucunya) diangkat kepada beliau, dan beliau mendudukkan di pangkuannya, ketika itu cucu beliau nafasnya sudah tersengal-sengal. Kedua mata Rasulullah pun bercucuran. Maka Sa'd bertanya: 'Mengapa mata anda sampai bercucuran?" Nabi menjawab; "ini adalah tanda kasih sayang yang Allah letakkan di hati hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, hanyasanya Allah menyayangi hamba-Nya yang berhati penyayang."

( HR Bukhari )

Dalam lafaz yang lain...

فَبَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ أَتَبْكِي فَقَالَ إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ
عباده الرحماء
maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam pun menangis sehingga Sa'd bin 'Ubadah berkata, 'Mengapa baginda menangis? ' Nabi menjawab: 'Hanyasanya Allah menyayangi hamba-Nya yang penyayang.'

( HR Bukhari)

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ عُثْمَانَ بْنِ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ الْكَبِيرَ وَيَرْحَمْ الصَّغِيرَ وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengarnya dari Utsman bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits dari Abdul Malik bin Sa'id bin Jubair dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan dia merafa'kannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil serta tidak menyuruh kepada kebaikan dan melarang yang mungkar."

( HR Ahmad )

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ أَبِي قَابُوسَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ أَهْلُ السَّمَاءِ وَالرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ مَنْ وَصَلَهَا وَصَلَتْهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَّتْهُ

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru, dari Abu Qabus, dari Abdullah bin Amru bin al Ash dan sampai kepada Nabi SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM, beliau bersabda: "Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh ar Rahman, oleh karena itu kasihilah penduduk bumi maka nescaya penduduk langit akan mengasihi kamu. Dan rasa kasihan adalah sebuah jalan dari Ar Rahman, barangsiapa yang menyambungnya maka ia akan tersambung untuknya, dan barangsiapa memutuskannya maka ia akan terputus untuknya."
'
( HR Ahmad )

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ ابْنِ أَبِي الْحُسَيْنِ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abul Husain dari Syahr bin Hausyab dari Abdurrahman bin Ghanm dan sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Sebaik-baik hamba Allah ialah hamba yang bila dilihat, ia mengingatkan kepada Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang suka mengadu domba, suka memecah belah antara orang-orang yang saling mengasihi, serta mereka yang suka berbuat zalim, mencerai-beraikan manusia dan selalu menimbulkan kesusahan."

( HR Ahmad )

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ جَرِيرٍ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْإِسْلَامِ فَقَبَضَ يَدَهُ وَقَالَ النُّصْحُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَرْحَمْ النَّاسَ لَمْ يَرْحَمْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Simak bin Harb dari Ubaidullah bin Jarir dari Jarir ia berkata; Saya mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata; "Saya berbaiat kepada Anda di atas Islam." Beliau pun menjabat tangannya dan bersabda: "Untuk berbakti kepada setiap muslim." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang tidak mengasihi manusia, maka ia tidak akan dikasihi Allah 'azza wajalla."

( HR Ahmad )

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ يَعْنِي ابْنَ قَرْمٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ قَالَ سَمِعْتُ جَرِيرًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ وَمَنْ لَا يَغْفِرْ لَا يُغْفَرْ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Sulaiman yakni Ibnu Qaum, dari Ziyad bin Ilaqah ia berkata; Saya mendengar Jarir berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi. Dan siapa yang tidak mahu memaafkan, maka ia tidak akan dimaafkan (diampuni)."

( HR Ahmad )

حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الرِّجَالِ الْمَدَنِيُّ أَخْبَرَنَا عُمَرُ مَوْلَى غُفْرَةَ عَنِ ابْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَوْصَانِي حِبِّي بِخَمْسٍ أَرْحَمُ الْمَسَاكِينَ وَأُجَالِسُهُمْ وَأَنْظُرُ إِلَى مَنْ هُوَ تَحْتِي وَلَا أَنْظُرُ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي وَأَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ وَأَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَنْ أَقُولَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ يَقُولُ مَوْلَى غُفْرَةَ لَا أَعْلَمُ بَقِيَ فِينَا مِنْ الْخَمْسِ إِلَّا هَذِهِ قَوْلُنَا لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ الْحَكَمِ بْنِ مُوسَى و قَالَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

Telah menceritakan kepada kami Hakam bin Musa telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Rijal Al Madani telah mengabarkan kepada kami Umar mantan budak Ghufrah, dari Ibnu Ka'ab dari Abu Dzar dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, ia berkata, "Kekasihku telah mewasiatiku dengan lima hal; (yaitu agar) aku mengasihi orang miskin dan mahu duduk bersama mereka, memandang orang yang di bawahku dan tidak memandang yang di atasku, aku menyambung tali silaturahim walau dijauhi, agar aku mengatakan yang hak walau itu pahit, dan agar aku selalu mengucap LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan perantara Allah)." Maula Ghufrah berkata, "Aku tidak tahu yang terabaikan dari lima hal itu kecuali ini, yaitu ucapan kami 'LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH." Abu Abdurrahman berkata, "Aku mendengranya dari Hakam bin Musa, dan ia mengatakan dari Muhammad bin Ka'ab dari Abu Dzar dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam seperti itu."

( HR Ahmad )

حَدَّثَنَا هَارُونُ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ الْخَيْرِ الزِّيَادِيُّ عَنْ أَبِي قَبِيلٍ الْمَعَافِرِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ قَالَ عَبْد اللَّهِ وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ هَارُونَ

Telah menceritakan kepada kami Harun telah bercerita kepada kami Ibnu Wahb telah bercerita kepadaku Malik bin Al Khair Az Ziyadi dari Abu Qobil Al Ma'afiri dari 'Ubadah bin Ash Shamit bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Tidak termasuk ummatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak mengasihi yang lebih muda dan tidak pula mengerti hak seorang yang alim." 'Abdullah berkata: Saya mendengarnya dari Harun.

( HR Ahmad )