Tuesday, May 31, 2011

Kuliah Seni Perjuangan

SIRI 4

3. Security dalam kegiatan-kegiatan operasional

Mengenai dalil kerahasiaan dalam kegiatan-kegiatan operasional adalah sebagai berikut:

· Riwayat yang dibawakan Bukhari dari Ka’ab bin Malik ra. dalam kisah ketidakhadirannya dalam perang Tabuk, ia berkata:

ا“Rasulullah SAW tidaklah merencanakan satu peperangan kecuali beliau merahasiakannya. Hingga ketika beliau melakukan perang Tabuk dalam cuaca yang luar biasa panas serta menempuh perjalanan sangat panjang, melewati padang pasir dan menghadapi musuh yang banyak, maka beliau memberitahukannya kepada kaum muslimin supaya mereka bisa bersiap-siap dan arah yang akan dituju.”

Dalil yang lain adalah peristiwa Bai’atul ‘Aqabah, bai’ah ini dilakukan secara rahasia (sembunyi-sembunyi)

Dalil yang lain adalah hijrahnya Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah adalah dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Dalil yang lain adalah ketika Nu’aim bin Mas’ud ra. menyembunyikan keislamannya ketika Peperangan Khadak. [Ibnu Ishaq berkata: Nu’aim bin Mas’ud datang kepada Rasulullah SAW kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku masuk Islam sementara kaumku tidak mengetahui keislamanku, maka perintahkanlah aku sesuka hatimu.” Rasulullah SAW bersabda:

“Hanya ada satu orang seperti engkau dalam tubuh kami. Oleh karena itu, lemahkanlah semangat musuh untuk kami seperti kamu, sesungguhnya perang adalah tipudaya.”]

Maka Nu’aim pun masuk kembali di kalangan puak-puak yang bersekutu dalam tentera Ahzab, mengadu domba mereka sehingga berlaku curiga mencurigai dan perpecahan di kalangan mereka yang membawa kepada kekalahan tentera Ahzab.

Juga diperbolehkan bahkan terkadang wajib seorang muslim menyamar (carmouflage) seperti orang musyrik di dalam penampilan, seperti berpakaian dan kepentingan seumpamanya. Seperti mana yang berlaku dalam Peperangan Khandak. Al Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Huzaifah , bahwa Rasulullah SAW bersabda:

‘Siapa yang mahu mencari berita apa yang dilakukan mereka?’ Rasulullah SAW mensyaratkan bahwa dia harus kembali, niscaya Allah masukkan dia ke dalam syurga. Namun tidak ada seorangpun yang berdiri. Kemudian Rasulullah SAW salat malam itu, lalu menoleh kepada kami: ‘Siapa yang mahu mencari berita apa yang dilakukan mereka, kemudian kembali?’ Rasulullah n mensyaratkan dia harus kembali, ‘Saya mohon kepada Allah agar dia menjadi temanku di dalam syurga’.

Namun tidak ada juga yang bangkit berdiri, karena takut dan beratnya rasa lapar serta dingin yang menusuk tulang. Ketika tidak juga ada yang bangkit, Rasulullah SAW memanggilku. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak berdiri ketika beliau memanggilku. Kata baginda: ‘Hai Huzaifah, pergilah menyusup ke tengah-tengah mereka dan lihat apa yang mereka lakukan. Jangan melakukan tindakan apapun hingga engkau menemuiku.’

Aku pun mulai menyusup ke tengah-tengah mereka, sementara angin dan tentara Allah Taala berbuat apa yang dia lakukan, sehingga periuk mereka tunggang langgang. Demikian pula api dan khemah-khemah mereka. Abu Sufyan bin Harb berkata: ‘Wahai kaum Quraisy, hendaknya setiap orang dari kalian melihat siapa teman duduk di sebelahnya.’

Huzaifah pun berkata: ‘Akupun segera mencekak tangan orang di sebelahku dan berkata: ‘Siapa engkau?’ Dia berkata: ‘Saya Fulan bin Fulan.’

Kemudian Abu Sufyan berkata: ‘Wahai sekalian Quraisy, sesungguhnya kalian demi Allah tidak berada di tempat yang tetap. Perbekalan sudah hancur dan Bani Quraizhah telah mengingkari (kesepakatan dengan) kita. Sudah sampai kepada kita berita yang tidak kita sukai. Dan kita pun sudah mendapati dari angin kencang ini apa yang kamu lihat. Demi Allah, periuk tidak lagi pada tempatnya, api juga padam, dan khemah-khemah kita roboh, maka berangkat (pulang) lah kamu, karena sesungguhnya aku akan berangkat.’

Setelah itu dia beranjak ke arah tunggangannya yang terikat dan duduk di atasnya. Setelah itu dia memukulnya dan melompat tiga kali, tidaklah dia melepaskan tali penambatnya melainkan dia sudah berdiri. Kalau bukan janji Rasulullah SAW agar ‘Jangan berbuat sesuatu, sampai menemuiku’, kalau aku mahu pasti aku panah dia sampai mati.’

Sikap dan tindakan Huzaifah yang bersedia dan tangkas dapat memelihara security operasinya dalam peristiwa tersebut

Justeru penglibatan gerakan Islam dalam medan-medan ‘peperangan’ yang masih tidak berkesudahan dan dalam pelbagai rupa dan bentuknya, amat memerlukan kebijaksanaan tipu daya dalam usaha memenangi ‘peperangan-peperangan’ tersebut.

ABi

2 comments:

محمد حذوان بن حميدان said...

syukran abi kongsi ilmu.. (^_^)

Nadia Mujahidah said...

Kata2mu penuh bermakna abi... :)